RAGAM BERITA:

abdy busthan: pendidikan dan pembelajaran online


Oleh: Abdy Busthan

Dalam kebijakan pendidikan nasional yang dituangkan dalam Permendiknas RI No. 41 Tahun 2008 tentang Standar Proses, disebutkan bahwa salah satu komponen dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yaitu adanya "tujuan pembelajaran" yang di dalamnya menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. Tujuan pembelajaran hendaknya diletakkan dan dijadikan titik tolak berpikir untuk guru dalam menyusun sebuah RPP yang akan mewarnai komponen-komponen perencanan lainnya.

Selanjutnya dalam Permendiknas RI No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses, disebutkan juga bahwa "tujuan pembelajaran" memberikan petunjuk untuk memilih isi mata pelajaran, menata urutan topik-topik, mengalokasikan waktu, petunjuk dalam memilih alat-alat bantu pengajaran dan prosedur pengajaran, serta menyediakan ukuran (standar) untuk mengukur prestasi belajar siswa.

Kemudian James Popham & Eva L. Baker (2005) juga menegaskan bahwa, guru profesional harus merumuskan tujuan pembelajarannya dalam bentuk perilaku siswa yang dapat diukur, yaitu dengan menunjukkan apa yang dapat dilakukan oleh siswa tersebut sesudah mengikuti pelajaran. Berbicara tentang perilaku siswa sebagai tujuan belajar, kebanyakan para ahli sepakat untuk menggunakan pemikiran dari Bloom yang dikenal dengan “taksonomi Bloom", (lihat: Bagian III).

Dalam sebuah perencanaan pembelajaran tertulis (written plan/RPP), maka untuk merumuskan tujuan pembelajaran, haruslah dilakukan dengan memenuhi beberapa kaidah atau kriteria tertentu. Karena itu, W. James Popham dan Eva L. Baker (2005) menyarankan dua kriteria yang harus dipenuhi dalam memilih tujuan pembelajaran, yaitu:

Pertama, preferensi nilai guru, yaitu cara pandang dan keyakinan guru mengenai apa yang penting dan seharusnya diajarkan kepada siswa serta bagaimana cara membelajarkannya

Kedua, analisis taksonomi perilaku, sebagaimana dikemukakan oleh Bloom di atas, maka dengan menganalisis taksonomi perilaku ini, guru akan dapat menentukan dan menitikberatkan bentuk dan jenis pembelajaran yang akan dikembangkan, apakah seorang guru hendak menitikberatkan pada pembelajaran kognitif, afektif ataukah psikomotor.

Berkenaan dengan perumusan tujuan performansi, selanjutnya Dick dan Carey (dalam Hamzah Uno, 2008) menegaskan bahwa tujuan pembelajaran haruslah sesuai dengan kriteria, seperti: (1) tujuan harus menguraikan apa yang akan dapat dikerjakan atau diperbuat oleh anak didik; (2) menyebutkan tujuan, memberikan kondisi atau keadaan yang menjadi syarat untuk hadir pada waktu anak didik berbuat; dan (3) menyebutkan kriteria yang digunakan untuk menilai unjuk perbuatan anak didik yang dimaksudkan pada tujuan.

Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa tujuan pembelajaran harus dirumuskan secara jelas, maka dalam hal ini, Hamzah Uno (2008) selanjutnya menekankan pentingnya penguasaan guru tentang tata bahasa, sebab dari rumusan tujuan pembelajaran itulah dapat tergambarkan konsep dan proses berpikir dari seorang guru yang bersangkutan dalam menuangkan idenya tentang pembelajaran.

Karena itu, secara garis besarnya, tujuan pembelajaran adalah "bentuk kompetensi" yang nantinya akan dihasilkan dari siswa setelah mengikuti "keseluruhan" proses (termasuk evaluasi) dalam pembelajaran. Kompetensi yang harus dicapai ini kemudian dirumuskan dalam perubahan perilaku yang terukur atau dengan istilah "abjective" (Sanjaya Wina, 2008:232).

Indikator Pencapaian Kompetensi Tujuan Pembelajaran
Merajuk pada pengertian yang dijelaskan di atas, maka tujuan pembelajaran haruslah mencerminkan arah yang akan di tuju, yaitu selama pembelajaran berlangsung. Artinya bahwa arah dalam proses pembelajaran harus mengacu pada tujuan pembelajaran.

Namun, perlu diingat juga bahwa proses pembelajaran dikelola dalam rangka memfasilitasi siswa agar dapat mencapai kompetensi dasar. Pencapaian kompetensi dasar ini akan di ukur dengan tolok ukur kemampuan yang dirumuskan dalam indikator pencapaian kompetensi. Agar kegiatan 'memfasilitasi' ini berhasil dengan optimal, maka arah pembelajaran hendaknya mengacu pada "indikator pencapaian kompetensi".

Dengan demikian, persamaan dari indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran adalah pada fungsi keduanya sebagai acuan arah proses dan hasil pembelajaran. Sehingga nantinya yang dapat terjadi dalam pembelajaran adalah bahwa setiap siswa akan diukur menurut pencapaian kompetensinya. Bagi siswa yang pencapaian kompetensinya belum mencapai kriteria yang ditetapkan (dimana kriteria itu populer dengan nama KKM atau Kriteria Ketuntasan Belajar Minimal), maka ia akan mendapat pelayanan pembelajaran remidi untuk memperbaiki kemampuannya yang biasanya didahului dengan analisis kesulitan atau kelemahannya, lalu di akhiri dengan penilaian kemajuan belajarnya.

Mengingat bahwa tolok ukur (patokan dasar) yang digunakan dalam pengukuran itu adalah kemampuan pada indikator pencapaian kompetensi, maka dapat diartikan bahwa indikator pencapaian kompetensi merupakan target kemampuan yang harus dikuasai siswa secara individu atau dengan kata lain bahwa indikator pencapaian kompetensi adalah target pencapaian kemampuan individu siswa.

Berdasarkan pengertiannya, maka tujuan pembelajaran adalah gambaran dari proses dan hasil belajar yang akan diraih selama pembelajaran berlangsung. Ini berarti, bahwa tujuan pembelajaran adalah target kemampuan yang akan dicapai oleh seluruh siswa. Perbedaan dari indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran adalah bahwa kemampuan yang dirumuskan pada indikator pencapaian kompetensi merupakan target pencapaian kemampuan individu siswa. Sedangkan kemampuan yang dirumuskan pada tujuan pembelajaran merupakan target pencapaian kemampuan siswa secara kolektif.

Pertanyaannya, apakah rumusan kemampuan pada tujuan pembelajaran dan indikator pencapaian kompetensi selalu sama ataukah dapat berbeda? Dengan mencermati persamaan dan perbedaan dari indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran, maka dapat terjadi keseluruhan rumusan kemampuan pada tujuan pembelajaran sama dengan keseluruhan rumusan kemampuan pada indikator pencapaian kompetensi. Dengan mengacu pada indikator pencapaian kompetensi sebagai tolok ukur dalam penilaian dan tujuan pembelajaran yang menggambarkan proses dan hasil belajar, maka dapat terjadi kemampuan yang akan di raih siswa selama pembelajaran berlangsung, yaitu dengan targetnya sama dengan kemampuan tolok ukurnya. Jika ini yang terjadi, berarti keseluruhan rumusan tujuan pembelajaran sama dengan keseluruhan rumusan indikator pencapaian kompetensi.

Namun, dapat pula terjadi sebagian rumusan tujuan pembelajaran tidak sama dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi. Mengapa demikian? Hal ini dapat pula disebabkan antara lain diperlukannya proses belajar pendukung agar siswa dapat mencapai kemampuan tolok ukur dengan baik. Dalam hal ini, keseluruhan rumusan tujuan pembelajaran bisa saja tidak sama persis dengan keseluruhan rumusan indikator pencapaian kompetensi, karena ada tujuan pembelajaran lain yang mendukung.

Untuk melengkapi pembahasan ini, berikut akan diberikan ilustrasi persamaan dan perbedaan indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran. Misalnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia, dipilih Kompetensi Dasar (KD) 3.1, yaitu sebagai berikut:

Kompetensi Dasar :
Memahami wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan berita
Lalu, dikembangkan 2 indikator pencapaian kompetensi pada KD di atas, yaitu:

Indikator:
(a) Menyimpul­kan isi berita yang diba­cakan dalam beberapa kalimat
(b) Menuliskan kembali be­rita yang di­bacakan ke dalam bebe­rapa kalimat

Karena dalam hal ini siswa adalah objek pembelajaran, maka guru sebagai subjek, kemudian mengembangkan 2 indikator pencapaian kompetensi pada KD 3.1 diatas, yaitu:

Tujuan Pembelajaran :
(a) Siswa mampu menunjukkan pokok-pokok berita yang didengarkan
(b) Siswa mampu menyarikan pokok-pokok berita menjadi isi berita,
(c) Siswa mampu menyimpulkan isi berita dalam satu alenia

Dari contoh di atas, maka posisi indikator (a) adalah indikator pendukung atau jembatan, yaitu indikator yang tuntutan kemampuannya harus ditunjukkan sebelum kemampun yang dituntut pada KD tercapai. Posisi indikator (b) adalah sebagai indikator kunci, yaitu penanda pencapaian suatu KD dengan target minimal. Tuntutan kemampuan pada indikator kunci mewakili tuntutan kemampuan KD-nya.

Untuk mengukur pencapaian kemampuan dengan tolak ukur indikator (a), maka perlu dilakukan penilaian dengan cara antara lain: memberikan kepada siswa penjelasan tentang arti dan prinsip-prinsip suatu berita, yang kemudian meminta siswa menyimpulkan beberapa berita yang di baca di koran atau di dengar di televisi.

Untuk mengukur pencapaian kemampuan melalui indikator (b), maka perlu dilakukan penilaian dengan cara antara lain: memberikan kepada siswa beberapa bentuk dan contoh berita yang prinsip-prinsip beritanya sudah diketahui sebelumnya pada indikator (a), Menuliskan kembali be­rita yang di­bacakan ke dalam bebe­rapa kalimat.

Sementara penilaian akan dilakukan setelah guru memfasilitasi pembelajaran yang relevan. Pada proses pembelajaran, mengingat bahwa belum pernah belajar tentang memahami wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan berita (KD), maka guru perlu memfasilitasi siswa agar terlebih dahulu belajar seperti petunjuk (a) dan (b) di atas. Setelah itu siswa diminta menjelaskan apa yang ditemukan, diikuti dengan berlatih menuliskan wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan berita.

Untuk kepentingan itu, maka perlu dirumuskan 3 tujuan pembelajaran yaitu setelah mengikuti pembelajaran diharapkan siswa mampu (a) Menunjukkan pokok-pokok berita yang didengarkan; (b) Mampu menyarikan pokok-pokok berita menjadi isi berita, (c) Mampu menyimpulkan isi berita dalam satu alinea.

Dalam hal pencapaian tujuan (a) dan tujuan (b), maka guru antara lain dapat meminta siswa agar bekerja dalam kelompok yang difasilitasi alat peraga atau LKS dan mempresentasikan hasil ’temuannya’ kemudian berlatih menuliskan pokok-pokok berita menjadi isi berita. Untuk mencapai tujuan (c) siswa dapat di fasilitasi belajarnya secara individual, kelompok atau klasikal, tergantung strategi pembelajaran yang dipilih guru, dalam kaitannya untuk siswa mampu menyimpulkan isi berita dalam satu alinea.

Selanjutnya, bagaimana ruang lingkup kemampuan yang dirumuskan pada tujuan pembelajaran dan indikator pencapaian kompetensi? Mengingat tujuan pembelajaran merupakan target pencapaian kolektif, maka rumusannya dapat dipengaruhi oleh desain kegiatan dan strategi pembelajaran yang di susun oleh guru untuk siswanya. Sementara rumusan indikator pencapaian kompetensi tidak terpengaruh oleh apapun desain atau strategi kegiatan pembelajaran yang disusun guru karena rumusannya lebih bergantung kepada karakteristik KD yang akan dicapai siswa.

Perlu diingat, bahwa indikator pencapaian kompetensi menjadi acuan penilaian, yaitu sebagai tolok ukur pencapaian KD, sehingga tujuan pembelajaran harus searah dengan tolok ukurnya dan hendaknya dapat memfasilitasi siswa agar dapat mencapai kemampuan yang dirumuskan oleh tolok ukurnya. Dengan demikian, berarti ruang lingkup kemampuan pada tujuan pembelajaran dapat lebih luas atau sama dengan ruang lingkup kemampuan pada indikator pencapaian kompetensi. Hal itu sesuai dengan target kemampuan yang akan dicapai pada tujuan pembelajaran, yaitu mencakup proses dan hasil belajar, sementara target kemampuan pada indikator pencapaian kompetensi adalah target hasil belajar.

Sehingga, tidaklah logis bila ruang lingkup kemampuan pada tujuan pembelajaran lebih sempit dari ruang lingkup kemampuan pada indikator pencapaian kompetensi. Mengapa? Bila ruang lingkup kemampuan pada tujuan pembelajaran lebih sempit dari ruang lingkup kemampuan pada indikator pencapaian kompetensi, maka proses memfasilitasi pembelajaran cenderung tidak lengkap atau tidak memadai untuk mengantarkan siswa mampu mencapai kemampuan sesuai tolok ukur.

Merumuskan TIK (Tujuan Intruksional Khusus)
Merumuskan tujuan instruksional dengan jelas, umumnya dianggap sebagai salah satu langkah pertama dan utama yang sangat penting dalam proses perencanaan kurikulum dan pelajaran yang sistemik.

Dick dan Carey (1985) dalam Suparman (2004:158), menjelaskan bagaimana Robert Merger telah merumuskan cara untuk menyusun Tujuan Intruksional Khusus (TIK) dengan susunan kalimat yang jelas dan pasti, serta dapat di ukur. Perumusan TIK ini diungkapkan secara tertulis, dan diinformasikan kepada siswa atau mahasiswa, juga pengajar yang mempunyai pengertian yang sama tentang apa yang tercantum dalam TIK.

Pengembangan teknis penyusunan tujuan pembelajaran Merger adalah dalam format ABCD. Dimana A=Audience (siswa atau audiens dan sasaran didik lainnya), B=Behavior (perilaku yang dapat diamati sebagai hasil belajar), C=Condition (kondisi dan situasi yang ditunjukkan siswa melalui kemampuan yang didapatkan sebagai hasil dari proses belajar-mengajar) dan D=Degree (kualitas dan kuantitas tingkah laku yang ‘diharapkan' untuk dapat dimiliki siswa, atau dapat dikatakan sebagai tingkat penampilan yang dapat diterima siswa/audiens).

Audience, merupakan siswa yang akan belajar, dalam TIK perlu dijelaskan siapa siswa yang akan belajar. Keterangan tentang siswa yang akan belajar tersebut harus dijelaskan secara spesifik mungkin, agar seseorang yang berada di luar populasi yang ingin mengikuti pelajaran tersebut dapat menempatkan diri seperti siswa atau mahasiswa yang menjadi sasaran dalam sistim instruksional tersebut.

Behavior, merupakan perilaku spesifik yang akan dimunculkan oleh siswa setelah selesai mengikuti proses belajar-mengajar. Perilaku ini terdiri dari dua bagian penting, yaitu kata kerja dan objek. Kata kerja lebih menunjukkan bagaimana seorang siswa mendemonstrasikan sesuatu seperti menyebutkan, menjelaskan, menganalisis dan lain sebagainya. Sedangkan objek menunjukkan apa yang didemonstrasikan.

Condition, berarti batasan yang dikenakan kepada siswa atau alat yang digunakan siswa ketika melakukan tes. Kondisi ini dapat memberikan gambaran kepada pengembang tes tentang kondisi atau keadaan bagaimana siswa atau mahasiswa diharapkan dapat mendemonstrasikan perilaku melalui tes, misalnya dengan menggunakan rumus tertentu atau kriteria tertentu. Bisa juga dikatakan di sini, melalui pembelajaran apa, dalam materi apa, siswa dapat mencapai degree.

Degree, merupakan tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai perilaku. Adakalanya siswa diharapkan dapat melakukan sesuatu dengan sempurna tanpa salah dalam waktu dua jam dan lainnya.

Rumusan ABCD di atas, dalam penerapannya, terkadang tidak disusun secara berurutan, namun dapat dibolak-balikkan sesuai kebutuhan. Dalam prakteknya juga, perumusan TIK terkadang hanya mencantumkan dua komponen saja, misalnya A dan B, sehingga ketika di ukur tidak dapat memiliki kepastian dalam menyusun tes.

Untuk lebih jelasnya, contoh analisis perumusan TIK seperti kalimat berikut ini:

“Siswa dapat menunjukkan 5 (lima) tempat penemuan manusia purba di Indonesia dengan menggunakan gambar peta”.

Apabila dirumuskan kalimatnya dalam komponen-komponen ABCD, maka: Siswa merupakan komponen Audiens (A), menunjukkan tempat penemuan manusia purba di Indonesia merupakan komponen Behavior (B); dengan menggunakan gambar peta merupakan komponen Condition (C); dan 5 (lima) tempat merupakan komponen Degree (D)

Contoh lainnya,
"Melalui pelajaran Bahasa Indonesia, siswa diharapkan dapat membedakan pengertian prosa dan peribahasa dengan tepat".

Maka rumusan ABCD adalah: melalui pelajaran bahasa Indonesia (C)//siswa (A)//diharapkan dapat membedakan (B)//pengertian prosa dan peribahasa dengan tepat (D).

Jika diperhatikan, kalimat di atas merupakan bentuk perilaku dalam rumusan tujuan pembelajaran yang dapat terukur. Sebab ditandai dengan kata "dapat membedakan", yang mana kata ini merupakan perilaku yang terukur (spesifik) serta dapat di observasi.

Contoh lainnya lagi,
“Siswa dapat membacakan puisi dengan menggunakan tanda baca yang baik dan benar setelah mengikuti pembahasan materi tentang puisi”.

Apabila rumusan kalimat ini dimasukkan ke dalam komponen- komponen ABCD, maka: siswa, merupakan komponen Audiens (A), membacakan puisi, merupakan komponen Behavior (B), dengan menggunakan tanda baca yang baik dan benar, merupakan komponen Degree (D), setelah mengikuti pembahasan materi tentang puisi, merupakan komponen Condition (C)

Dari contoh di atas, diketahui bahwa siswa dikatakan telah mencapai tujuan pembelajaran apabila siswa tersebut:

Pertama, telah mampu membacakan puisi dengan tanda baca yang baik dan benar. Apabila siswa masih membacakan puisi tanpa memperhatikan tanda baca yang baik dan benar, maka siswa tersebut belum dapat dianggap telah menguasai tujuan pembelajaran atau TIK.

Kedua, dapat menggunakan tanda baca berati bahwa, pada saat guru menuntut siswa untuk mendemonstrasikan kemampuan dalam membacakan puisi sesuai dengan tanda baca yang baik dan benar, maka guru harus memberikan atau mengajarkan bahan materi tentang puisi dengan menjelaskan penempatan tanda baca yang baik dan benar.

Contoh berbeda, “Siswa dapat menyebutkan isi proklamasi dengan teknik pidato”. Maka dirumuskan: siswa merupakan komponen Audiens (A); menyebutkan isi proklamasi merupakan komponen Behavior (B); dengan teknik pidato merupakan komponen Condition (C).

Dari contoh di atas, tampak bahwa rumusan TIK tidak mengandung komponen tingkat ukuran pencapaian (Degree/D). Jika demikian, apakah rumusan tersebut di anggap salah? Tentu saja, tidak! Memang secara ideal, rumusan TIK hendaknya mengandung keempat komponen tersebut. Namun demikian, tidak setiap TIK harus memenuhi empat komponen di atas.

Adakalanya TIK hanya terdiri dari komponen A dan B saja, seperti contoh berikut...“Siswa dapat menyebutkan batas-batas wilayah Kupang” . Jika diuraikan ke dalam komponen-komponen ABCD, maka: siswa merupakan komponen Audiens (A); menyebutkan batas-batas wilayah Kupang merupakan komponen Behavior (B).

Merumuskan Tes Evaluasi Berdasar Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran, atau biasa disebut dengan kompetensi, merupakan tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Sehingga guru dalam hal ini harus segera merumuskan item tes sesuai dengan tujuan yang dirumuskan. 

Tentu saja, perumusan tes setelah perumusan tujuan, bukan hanya berguna dalam menentukan indikator keberhasilan saja, tetapi dapat juga untuk mengecek kembali ketepatan rumusan tujuan. Sebagai contohnya dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 1 Hubungan TP dan Evaluasi Yang Benar


Rumusan Tujuan Pembelajaran
Evaluasi
(Bentuk Tes)
1.Setelah mengikuti pelajaran bahasa Indonesia, siswa dapat menjelaskan pengertian komposisi surat
Jelaskanlah apa yang dimaksud dengan komposisi surat ?
2.Setelah pembelajaran bahasa Indonesia berakhir, siswa dapat mengemukakan perbedaan antara komposisi surat pribadi dengan komposisi surat resmi
Kemukakanlah pendapat anda tentang perbedaan pengertian antara komposisi surat pribadi dan komposisi surat resmi?


Dari contoh tabel di atas, maka tampak jelas bagaimana perubahan perilaku yang terkandung dalam tujuan pembelajaran yang dapat di ukur. Karena nampak jelas sekali bahwa alat eveluasinya dapat menentukan keberhasilan pembelajaran. 

Artinya, apabila berakhirnya kegiatan belajar, kemudian sebagian besar siswa dapat menjawab dengan jelas apa yang di tanyakan pada kolom evaluasi, maka kegiatan belajar-mengajar dapat dikatakan berhasil. Namun sebaliknya, jika sebagian siswa tidak dapat menjelaskannya, maka kegiatan belajar-mengajar tersebut perlu di revisi karena tidak berhasil. Selanjutnya, coba bandingkan dengan rumusan tujuan pembelajaran berikut ini dengan rumusan tujuan pembelajaran di atas:


Tabel 2 Hubungan TP dan Evaluasi Yang Salah


Rumusan Tujuan Pembelajaran
Evaluasi
1.Setelah mengikuti pelajaran bahasa Indonesia, siswa dapat memahami pengertian komposisi surat
Pahamilah apa yang dimaksud dengan komposisi surat ?
2.Setelah pelajaran Bahasa Indonesia berakhir, siswa dapat mengetahui perbedaan antara komposisi surat pribadi dengan komposisi surat resmi
Ketahuilah pendapat anda tentang perbedaan pengertian antara komposisi surat pribadi dan komposisi surat resmi?

Rumusan item tes pada tabel di atas, merupakan alat evaluasi yang tidak dapat dipahami dan tidak memiliki arti sama sekali. Tampak jelas sekali, bagaimana item tes tidak mencerminkan alat ukur yang baik. Mengapa hal ini dapat terjadi? Tentu saja hal ini terjadi sebagai akibat dari kesalahan dalam merumuskan tujuan pembelajarannya.

Daftar Pustaka: 
Busthan Abdy (2017). Perencanaan Pembelajaran (Hal. 113-126). Kupang: Desna Life Ministry


abdy busthan: pendidikan dan pembelajaran online

Oleh: Abdy Busthan

Setidaknya terdapat lima karakteristik dasar dari model pembelajaran yang baik, sebagaimana dijelaskan oleh Rangke L Tobing, dkk (1990), yaitu sebagai berikut: 
  • Prosedur Ilmiah. Suatu model pembelajaran harus memiliki sebuah prosedur yang sistematis untuk mengubah tingkah laku peserta didik atau memiliki sintaks, yaitu urutan langkah-langkah pembelajaran secara sistemik, yang nantinya dapat dijadikan pedoman untuk dilakukannya pembelajaran oleh guru dan siswa. 
  • Spesifikasi hasil belajar yang direncanakan. Sebuah model dalam pembelajaran, setidaknya dapat merincikan hasil-hasil belajar secara rinci tentang perkembangan perilaku peserta didik.
  • Spesifikasi lingkungan belajar. Model pembelajaran juga dapat mengambarkan secara terstruktur atau dapat menyebutkan secara tegas tentang kondisi lingkungan dimana tanggapan peserta didik diobservasi.
  • Kriteria penampilan. Suatu model pembelajaran merujuk pada kriteria penerimaaan penampilan yang diharapkan dari para peserta didik. Model pembelajaran merencanakan tingkah laku yang diharapkan dari peserta didik yang dapat didemonstrasikannya setelah langkah-langkah mengajar tertentu.
  • Cara-cara pelaksanaannya. Semua model pembelajaran harus mampu menyebutkan mekanisme yang menunjukkan reaksi peserta didik dan interaksinya dengan lingkungan.

Aspek Karakteristik
Bruce dan Weil (1980, 1992:135-136) mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran ke dalam aspek-aspek berikut ini:

Sintaks. Bahwa, suatu model pembelajaran harus memiliki sintaks atau urutan serta tahap-tahap kegiatan belajar yang diistilahkan dengan “fase”, yaitu yang menggambarkan bagaimana model tersebut dalam praktiknya, misalnya bagaimana memulai pelajaran.

Sistem sosial. Di sini sistem sosial menggambarkan bentuk kerja sama antara guru dan peserta didik dalam pembelajaran atau peran-peran guru dan peserta didik, dan hubungannya satu sama lain dengan jenis-jenis aturan yang harus diterapkan. Peran kepemimpinan guru bervariasi dalam satu model ke model pembelajaran lainnya. Dalam beberapa model pembelajaran, guru bertindak sebagai pusat kegiatan dan sumber belajar (hal ini berlaku pada model yang terstruktur tinggi). Namun dalam model pembelajaran yang terstruktur sedang, peran guru dan peserta didik seimbang. Jadi, setiap model memberikan peran yang berbeda pada guru dan peserta didik.

Prinsip reaksi. Di sini prinsip reaksi menunjukkan kepada seorang guru, tentang bagaimana cara menghargai atau menilai peserta didik dan bagaimana menanggapi apa yang dilakukan oleh peserta didik. Sebagai contoh, dalam suatu situasi belajar, guru memberi penghargaan atas kegiatan yang dilakukan peserta didik atau mengambil sikap netral. Sistem pendukung menggambarkan kondisi-kondisi yang diperlukan untuk mendukung keterlaksanaan model pembelajaran, termasuk sarana dan prasarana, misalnya alat dan bahan, kesiapan guru, serta kesiapan peserta didik.

Dampak pembelajaran langsung dan iringan. Dalam hal ini, dampak pembelajaran langsung merupakan hasil belajar yang dicapai dengan cara mengarahkan para peserta didik pada tujuan yang diharapkan. Sedangkan dampak iringan adalah, hasil belajar lainnya yang dihasilkan oleh suatu proses pembelajaran sebagai akibat terciptanya suasana belajar yang dialami langsung oleh pebelajar.

Semoga bermanfaat

Daftar Pustaka:
Busthan Abdy (2017). Perencanaan Pembelajaran (Hal. 101-103). Kupang: Desna Life Ministry


abdy busthan: pendidikan dan pembelajaran online


ABDY.NEWS - Nabire adalah sebuah kabupaten di ujung timur Propinsi Papua, dan terletak tepat di Teluk Cenderawasih. Bukan isapan jempol semata bahwa alam Nabire menyimpan sejuta pesona yang unik dan bernilai eksotis.

Pada hampir setiap sudut kota Nabire terhampar keindahan alam yang sangat memukau. Hal inilah yang membuat kabupaten yang ibu kotanya Nabire ini selalu memiliki potensi wisata yang menjanjikan, yang meskipun tidak semua di kelola secara profesional.

Berikut ini 11 tempat wisata yang unik dan eksotis di kabupaten Nabire

1. Pantai Gedo
Pantai ini termasuk objek wisata tertua dan lokasinya tidak jauh dari jantung kota Nabire. Terletak di Desa Sanoba, Wahario yang jaraknya sekitar 10 km di sebelah Timur Kota Nabire.

Pantai Gedo mempunyai keunikan tersendiri bagi wisawatan yang berkunjung, sebab tempat ini memadukan kawasan perairan dengan warna air lautnya yang biru serta kawasan pantai dengan hamparan pasirnya yang berwarna putih bersih.


sumber gambar: https://placesmap.ne

2. Pantai Sowa

Pantai Sowa termasuk salah satu pantai di Indonesia yang banyak menyimpan keunikan. Salah satu keunikan pantai ini adalah adanya ikan hiu paus yang jinak dan bisa di panggil langsung oleh masyarakat setempat. Para wisatawan yang ingin melihat langsung ikan hiu paus tersebut harus menggunakan perahu jonson ke bagian tengah laut.

Keunikan lainnya bahwa pantai Sowa juga memiliki kadar air laut yang sangat jernih dan bersih. Sementara luas bibir pantai Sowa hampir mencapai sepuluh kilo meter.

Pantai ini berjarak 120 km dari jantung kota Nabire. Di kawasan pantai ini juga para pengunjung bisa melihat rumah terapung yang letaknya di tengah laut, seperti tampak pada gambar di bawah ini



3. Kwatisore
Memang tak dapat dipungkiri Kwatisore adalah tempat wisata yang unik dan menarik. Mengapa? Sebab di sini Anda akan berenang di laut lepas bersama ikan hiu paus dan whale shark atau hiu totol.

Di Kwatisore tendapat banyak sensasi yang tidak akan di jumpai di objek wisata lain, yaitu melihat ikan-ikan hiu yang bobotnya hingga 6 ton ketika mereka menggesek-gesekkan tubuhnya pada badan perahu nelayan, bahkan menemani pengunjung berenang mengarungi lautan.

Pengunjung juga bisa melihat langsung kelompok besar ikan hiu di perairan Kwatisore karena kawasan ini merupakan bagian dari Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Binatang-binatang laut tersebut terkesan begitu akrab dengan nelayan dan wisatawan, karena kehidupan mereka selama ini memang dilindungi sehingga kehadiran manusia di dekat mereka, tidak membuat ikan-ikan tersebut merasa takut.

Perlu diketahui pula bahwa pantai Kwatisore sudah dikelola cukup profesional, hal ini terlihat dari banyaknya sarana pendukung seperti kamar mandi dan toilet, warung dan kios-kios, area parkir, taman bermain untuk anak-anak, pemandian dan berbagai wahana penunjang lainnya.


sumber gambar: http://dagelanfamily.com

4. Pantai Pulau Ahe
Selain aman, nyaman, tenang dan masih natural, kawasan Pantai Pulau Ahe juga menghadirkan pesona alam yang unik, baik di daratan yang luasnya sekitar 400 meter2 maupun di kawasan pantai.

Alam bawah laut pantai ini berhiaskan berbagai jenis terumbu karang dan biota laut. Penduduk setempat yang memiliki kesadaran akan wisata, senantiasa menyambut ramah para pengunjung dengan mempertontonkan berbagai atraksi seni budaya tradisional. Di sini juga dapat dijumpai bangkai pesawat terbang milik Sekutu yang merupakan sisa-sisa Perang Dunia II.


sumber gambar: https://www.dihaimoma.com

5. Pantai Nomalisa
Hamparan pasir putih yang dikelilingi pepohonan rimbun di sekeliling pantai Nomalisa ini menghadirkan daya tarik tersendiri bagi setiap pengunjungnya. Terlebih lagi berbagai fasilitas pendukung telah disiapkan bagi para wisatawan di sini.

Pantai Nomalisa terletak di Desa Samabusa, Distrik Siriwini, jarak Pantai Nomalisa hanya sekitar 8 km dari Pusat Kota Nabire. Akses yang harus dilewati relatif mudah karena tersedia cukup banyak angkutan umum dari berbagai jenis. Tidak heran jika pantai ini menjadi objek wisata favorit masyarakat Nabire.


sumber gambar: https://www.dihaimoma.com

6. Pantai Burate
Pantai Burate merupakan alam yang indah dengan suasana yang sepi dan tenang. Pantai ini jauh dari perkampungan penduduk dengan akses jalan yang hanya bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi, sehingga membuat pantai ini tidak banyak dikunjungi wisatwan.

Keindahan alam di pantai ini tidak perlu diragukan. Sebagaimana pantai di Papua pada umumnya, Pantai Burate berhias pasir putih yang bersih berkilau. Perairan di kawasan pantai tampak jernih dengan ombak yang tenang. Sehingga selain berjemur sambil menikmati keindahan alam, pengunjung juga dapat mandi dan berenang serta melakukan aktifitas diving dan snorkeling.


sumber gambar: https://www.rekreasialam.co.id/

7. Pantai MAF
Pantai MAF terletak di pusat kota Nabire dan bersebelahan dengan Bandar Udara Nabire. Satu hal yang paling unik dari pantai MAF adalah detik-detik dimana matahari mau tenggelam. Sunset yang dilihat dari Pantai MAF menghadirkan keindahan yang luar biasa. Bisa dilihat pada gambar di bawah ini.


sumber gambar: https://papuansphoto.wordpress.com

Disebut Pantai MAF karena lokasi pantai ini berada tidak jauh dari Bandara MAF (Mission Aviation Fellowship). Sehingga tempat wisata yang pertama kali dijumpai para wisatawan dari luar pulau adalah pantai ini. Karena itulah Pantai MAF selalu ramai oleh pengunjung, baik para wisatawan yang baru keluar dari bandara maupun masyarakat setempat.

Pada umumnya masyarakat setempat berkunjung ke pantai ini pada sore hari. Sembari jalan-jalan, mereka menunggu momen matahari tenggelam. Karena sunset yang dilihat dari Pantai MAF menghadirkan keindahan yang luar biasa.

8. Pantai Nusi

Pantai Nusi terletak di Distrik Makimi, ujung Timur kota Nabire. Jaraknya dari pusat Kota Nabire sekitar 30 km. Berbeda dengan pantai lainnya yang ada di Papua, Pantai Nusi berhiaskan pasir hitam. Meski demikian, tidak mengurangi keindahan dan daya tariknya.

Selain keindahan alam yang menyelimuti, Pantai Nusi juga memiliki alam bawah laut yang memukau. Beragam jenis terumbu karang, rumput laut, ikan dan biota laut lainnya, bakal memanjakan mata para wisatawan yang melakukan aktifitas diving dan snorkeling


sumber gambar: https://www.triptrus.com

9. Air Terjun Bihewa
Jika wisata air terjun pada umumnya berada di tempat yang terpencil, berbeda dengan Air Terjun Bihewa. Pengunjung tidak perlu bersusah payah melakukan trekking yang menguras tenaga, karena lokasi air terjunnya hanya berjarak sekitar 50 meter dari tempat parkir kendaraan.

Keistimewaan dari air terjun ini adalah adanya sap atau tingkat yang jumlahnya sebanyak 7 tingkat. Disetiap tingkat, pengunjung bisa menjumpai area untuk mandi, berenang, dan bermain, serta spot-spot menawan untuk dijadikan latar belakang foto.


sumber gambaar: http://amaliarosyidah01.blogspot.com

10. Pantai Merry
Bukan menjadi hal baru lagi di kalangan penduduk kota Nabire bahwa Pantai Merry adalah destinasi yang tepat untuk bersantai bersama keluarga di Nabire. Pantai ini berlokasi di Distrik Teluk Kimi, yang membutuhkan waktu sekitar 45 menit dari Kota Nabire. Biaya masuk pantai ini dihitung dari jenis kendaraan yang digunakan, untuk motor seharga 10.000, mobil 50.000, dan bus 100.000.

Di pantai Merry Anda akan melihat jembatan kayu dan pondok kecil di atas pantainya, yang sangat cocok untuk mengabadikan momen dengan berfoto. Bagi wisatawan yang bingung bila ingin berganti pakaian atau buang air kecil, tersedia juga beberapa toilet disini.


Sumber gambar: https://web.facebook.com/pantaimerry/photo

11. Taman Nasional Teluk Cendrawasih
sumber gambar: https://www.idntimes.com

Selain terdiri dari beragam satwa yang menghuni kawasan Taman Nasional ini, daya tarik Teluk Cendrawasih lainnya adalah adanya hadirnya sejumlah hewan langka dan dilindungi, yang semakin menjadikan Taman Nasional ini sebagai habitat hidup mereka.

Tempat ini adalah tempat menyelam terbaik, sekaligus Taman Nasional terbesar di Indonesia. Dengan luas areanya mencapai sekitar 1.453.500 hektar, dan terdiri dari hutan tropika, hutan mangrove, dan terumbu karang.

Taman Nasional Teluk Cendrawasih di huni oleh 150 spesies dari 15 family dan 290 jenis ikan. Beberapa dari hewan langka tersebut diantaranya adalah Hiu Paus (Whaleshark) yang merupakan hewan terbesar di dunia, Penyu Riddle Pasific, Penyu Hijau, Penyu Sisik, Penyu Belimbing, dan beberapa jenis hewan langka yang lain (Red)
abdy busthan: pendidikan dan pembelajaran online



Oleh: Abdy Busthan

Ketiga istilah ini: Teori, Model dan Strategi, dalam lingkup pembelajaran, sedikit banyaknya sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang sama, sehingga menimbulkan mispersepsi yang berkepanjangan. Padahal ketiganya secara struktural, maupun operasional, sangat berbeda. 

Jika ditilik secara seksama, ketiganya bisa di ibaratkan dengan sebuah siklus dalam hukum keturunan keluarga. 
Misalnya, Ba’i (baca: Kakek), Bapak dan Anak. Dimana Ba’i mengambil Nenek sehingga bisa melahirkan Bapak; selanjutnya, Bapak mengambil Mama untuk menghasilkan Anak. Artinya bahwa berdasarkan hukum keturunan, maka seorang Anak diturunkan oleh seorang Bapak, dan seorang Bapak, diturunkan pula dari sang Ba’i, begitupun seterusnya. 

Demikian juga dengan Teori, Model dan Strategi. Dalam perspektif belajar dan pembelajaran, Strategi tidak datang dengan sendirinya dari langit. Sebab Strategi dapat menjadi Strategi, ketika terdapat sebuah Model. Sementara Model datang dari sebuah Teori yang mendasarinya. Dengan pemahaman bahwa, Teori melahirkan Model, sementara Model menghasilkan Strategi.


Artinya bahwa, Teori, Model dan Strategi, adalah tiga hal yang sangat berbeda. Ketiga hal ini dapat dibedakan dengan kalimat berikut, “Pak Guru Bahasa Indonesia, sedang mengajar dengan Strategi Penyampaian, dalam Model Ceramah, yang didasarkan pada teori Behavioristik”. 

Jadi, Strategi mengajar tertanam di dalam setiap Model pembelajaran. Sementara Model pembelajaran muncul dari Teori belajar dan pembelajaran (Busthan Abdy, 2017:92)

1. Teori
Sebuah teori boleh jadi terdengar valid namun tidak mengandung makna ilmiah, kecuali ia mampu bertahan menghadapi ujian eksperimental yang ketat. Tapi perlu dipahami bahwa semua teori ilmiah, betapapun abstraknya aspek formalnya, tetap akan diawali dan diakhiri dengan pernyataan tentang kejadian yang dapat diamati. 

Untuk itu, dalam setiap pengkajian teori ilmiah, terkandung 2 (dua) aspek mendasar, yaitu: 
  1. Aspek formal (formal aspect), yang mencakup kata dan simbol yang terdapat dalam teori
  2. Aspek empiris (empirical aspect), yang terdiri dari peristiwa-peristiwa fisik yang hendak dijelaskan oleh teori itu.
Dengan demikian, teori akan berdiri sebagai sesuatu yang taat akan fakta. Sebab teori bukan kumpulan huruf yang kemudian dirangkai menjadi penggalan-penggalan kata, dan selanjutnya menjelma menjadi gugusan paragraf hingga ia membentuk sebuah kalimat yang menggambarkan maksud sang pembuat teori. Teori tidak hadir begitu saja. Teori ada, bukan tanpa sebab mengapa. Tetapi karena mengapa teori itu bisa ada. Artinya, teori ada karena adanya perbuatan, tindakan, serta kegiatan yang terjadi dibelakangnya.

Jadi, secara umum, teori merupakan analisis hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain sehingga membentuk sekumpulan fakta-fakta. 

Reigeluth (1983), mendefinisikan teori sebagai rangkaian prinsip yang secara sistematis diintegrasikan untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini teori pembelajaran merupakan teori yang menawarkan panduan ekplisit bagaimana membantu orang belajar dan berkembang menjadi semakin lebih baik. 

Jenis belajar dan pengembangannya dapat mencakup aspek kognitif, emosional, sosial, fisikal, dan spiritual. Itu sebabnya, teori pembelajaran mesti menunjukkan beberapa karakteristik berikut:
  • Designed oriented (berfokus pada alat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan untuk belajar atau pengembangan daripada description oriented—berfokus pada given events.
  • Mengidentifikasi metode pembelajaran (cara untuk mendukung dan memfasilitasi belajar) dan situasi pada mana metode dipakai/tidak dipakai.
  • Metode pembelajaran bisa dipecah-pecah menjadi rinci sebagai panduan.
  • Metode pembelajaran adalah probabilistic daripada deterministic.
Stanovich (2001) dalam karyanya yang berjudul “How to think straight about psychology” menjelaskan bahwa: 
“Sebuah teori dalam ilmu pengetahuan adalah seperangkat konsep yang saling terkait yang digunakan untuk menjelaskan sekumpulan data dan untuk membuat prediksi tentang hasil dari suatu kegiatan eksperimen di masa depan. Hipotesis adalah prediksi spesifik yang berasal dari teori (yang lebih umum dan komprehensif). Teori yang diakui saat ini adalah teori yang banyak dari hipotesisnya benar (confirmed). Struktur teoretis dari teori-teori semacam itu karenanya adalah konsisten dengan sejumlah besar observasi. Akan tetapi, ketika muncul data yang bertentangan dengan hipotesis yang berasal dari suatu teori maka ilmuwan akan mulai mengonstruksi teori baru yang akan memberikan interpretasi yang lebih baik atas data tersebut. Jadi, teori-teori yang didiskusikan secara ilmiah adalah teori yang sudah diverifikasi sampai tingkat tertentu dan teori tidak memberikan prediksi yang keliru atau bertentangan dengan data yang tersedia. Teori bukan sekedar dugaan atau tebakan.” (Stanovich, 2001:24-25). 
Apa yang dijelaskan Stanovich di atas sesungguhnya ingin menyatakan bahwa teori merupakan serangkaian prinsip yang diterima secara ilmiah, yang menjelaskan sebuah fenomena. 

Artinya bahwa teori memberikan kerangka-kerangka pikir untuk menginterpretasikan observasi-observasi lingkungan dan berfungsi sebagai jembatan-jembatan yang menghubungkan antara penelitian dan pendidikan (Suppes, 1974).

Semua aktivitas pembelajaran dasarnya adalah teori pembelajaran. Masing-masing teori hanya membahas beberapa aspek saja dari proses yang kompleks. Itu sebabnya, tidak ada teori tunggal yang dapat menjelaskan semua hal tentang belajar (Gredler E Margaret, 2011).

Masing-masing dari teori akan mendeskripsikan ciri tertentu dari belajar yang fokusnya pada pengidentifikasian faktor-faktor yang akan melahirkan hasil yang dapat diidentifikasi. Teori yang baik haruslah memenuhi dua fungsi: (1) fungsi umum dan (2) fungsi khusus, yang berkaitan dengan belajar dan pembelajaran.

Fungsi umum, terdiri dari 5 fungsi, yaitu: (1) Sebagai kerangka melakukan riset (teori memuat prinsip yang dapat di uji); (2) Memberikan kerangka penataan informasi yang spesifik; (3) Mengungkapkan komplesitas dan kekaburan suatu kejadian; (4) Melahirkan wawasan baru tentang situasi sehingga prinsip dan teori sebelumnya perlu diperbaiki; (5) Teori berguna sebagai penjelasan atas suatu kejadian.

Fungsi khusus, adakah menyangkut instruksi, termasuk perencanaan dan evaluasi instruksi serta memberikan informasi tentang problem di kelas. Pada titik ini maka teori belajar dan pembelajaran merupakan teori universal yang bisa mengidentifikasi peristiwa-peristiwa esensial dari belajar, yang berlaku secara universal—dalam setiap setting belajar pada diri siswa. 

2. Model
Secara luas, Joyce dan Weil (2000:13) mengemukakan bahwa, model pembelajaran adalah merupakan deskripsi dari lingkungan belajar yang menggambarkan perencanaan kurikulum, kursus-kursus, rancangan unit pembelajaran, perlengkapan belajar, buku-buku pelajaran, program multi media, dan bantuan belajar melalui program komputer. 

Sedangkan hakikat mengajar adalah membantu peserta didik memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai-nilai, cara berpikir, dan belajar bagaimana cara belajar.

Senada dengan itu, Eggen Paul dan Kauchak Don (2012) menjelaskan bahwa istilah “model” mengajar atau model pengajaran, adalah pendekatan spesifik dalam mengajar, yang memiliki tiga ciri, sebagai berikut: 
  1. Tujuan, dimana model mengajar dirancang untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kristis dan memperoleh pemahaman mendalam tentang bentuk spesifik materi. 
  2. Fase, dimana model mengajar mencakup serangkaian langkah (fase) yang bertujuan membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran yang spesifik. 
  3. Fondasi, dimana model mengajar didukung teori dan penelitian tentang pembelajaran dan motivasi 
Model lebih merupakan cetak biru untuk mengajar. Akan tetapi cetak biru tidak bisa mendikte semua tindakan orang yang mengajar (guru). Dalam artian bahwa cetak biru bukanlah pengganti bagi keahlian teknik dasar sebagaimana model pengajaran bukanlah pengganti bagi keahlian mengajar dasar. 

Model tidak bisa menggantikan kualitas-kualitas yang harus dimiliki oleh guru ahli, seperti: pengetahuan profesi, sensitivitas terhadap murid, dan kemampuan untuk membuat keputusan dalam situasi gawat. Jadi, model sebenarnya merupakan sebuah alat untuk membantu guru sebatas menjadikan pengajaran lebih sistematis dan efektif. 

Model juga berbeda dengan strategi mengajar. Sebab strategi mengajar ada didalam setiap model. Misalnya, strategi bertanya itu penting bagi keberhasilan semua model dalam pembahasan tertentu. Demikian juga strategi pengaturan pelajaran yang cermat, umpan balik, dan strategi lainnya.

Dari sini dapat dipahami bahwa model merupakan abstraksi yang dapat digunakan untuk memahami sesuatu yang tidak bisa di lihat atau dialami secara langsung. Model adalah representasi realitas yang disajikan dengan suatu derajat struktur dan urutan (Seels & Richey, 1994).

Model ada yang bersifat: (1) prosedural, yakni mendeskripsikan bagaimana melakukan tugas-tugas, atau bersifat (2) konseptual, yakni deskripsi verbal realitas dengan menyajikan komponen relevan dan definisi dengan dukungan data.

Pada prinsipnya, model dapat menjadi sarana menerjemahkan teori ke dalam dunia dalam kapasitas konkrit untuk direalisasikan ke dalam praktek atau menjadi sarana yang dapat memformulasikan teori berdasarkan temuan praktek. 

Karena itu, model merupakan salah satu tool untuk teorisasi. Artinya, teorisasi merupakan proses empirik dan rasional yang menggunakan bermacam alat, seperti prosedur penelitian, model, logika dan alasan. Tujuannya adalah memberikan penjelasan penuh mengapa suatu peristiwa terjadi sehingga bisa memandu untuk memprediksi sebuah hasil.

Ini berarti bahwa, antara teori dan model, serta suatu penelitian, sangat berhubungan erat. Dalam hal ini, penelitian memberi dan menerima konstribusi terhadap teori belajar dan pembelajaran. Sedangkan teori belajar dan pembelajaran memberi dan menerima pengaruh atau kontribusi atas terbentuknya teori-teori yang preskriptif—yang akhirnya melahirkan model preskriptif juga.

Jadi, model pembelajaran umumnya berangkat dari teori-teori belajar. Ini artinya, ada model pembelajaran yang berdasarkan pada teori belajar behavioristik, kognitivistik, dan konstruktivistik bahkan humanistik. 

3. Strategi
Strategi merupakan suatu upaya untuk memperoleh kesuksesan dan keberhasilan dalam mencapai sebuah tujuan. Dalam dunia pendidikan, khususnya pembelajaran, strategi dapat diartikan sebagai a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal (J. R. David, 1976).

Dalam artian bahwa strategi pembelajaran adalah perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan mdia serta berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran yang disusun untuk mencapai tujuan tertenu. Dalam hal ini adalah tujuan pembelajaran.

Pada awalnya, istilah strategi banyak digunakan dalam dunia militer yang diartikan sebagai cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk memenangkan suatu peperangan. 

Sekarang, istilah strategi banyak digunakan dalam berbagai bidang kegiatan yang bertujuan memperoleh kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan. Misalnya seorang manajer atau pimpinan perusahaan yang menginginkan keuntungan dan kesuksesan yang besar akan menerapkan suatu strategi dalam mencapai tujuannya itu, seorang pelatih akan tim basket akan menentukan strategi yang dianggap tepat untuk dapat memenangkan suatu pertandingan.

Begitu juga seorang guru yang mengharapkan hasil baik dalam proses pembelajaran, tentunya ia akan menerapkan suatu strategi agar hasil belajar siswanya mendapat prestasi yang terbaik. Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien (Kemp, 1995).

Dick & Carey (1985) menyatakan bahwa strategi pembelajaran, adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa. Strategi pembelajaran merupakan hal yang perlu diperhatikan seorang instruktur, guru, widyaiswara dalam proses pembelajaran.

Setidaknya, terdapat 3 (tiga) jenis strategi yang berkaitan dengan pembelajaran, yaitu sebagai berikut.

Strategi Pengorganisasian Pembelajaran.
Reigeluth dkk (1977) menyatakan bahwa, strategi pengorganisasi isi pelajaran disebut sebagai struktural strategi, yang mengacu pada cara untuk membuat urutan dan mensintesis fakta, konsep, prosedur dan prinsip yang berkaitan. 

Strategi pengorganisasian dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: (1) Startegi mikro, mengacu pada metode untuk pengorganisasian isi pembelajaran, yaitu yang berkisar pada satu konsep, atau prosedur atau prinsip; (2) Strategi makro, yaitu yang mengacu pada metode untuk mengorganisasi isi pembelajaran yang melibatkan lebih dari satu konsep atau prosedur atau prinsip.

Strategi makro berurusan dengan bagaimana memilih, menata urusan, membuat sintesis dan rangkuman isi pembelajaran yang saling berkaitan.

Pemilihan isi berdasarkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, mengacu pada penentapan konsep apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu. Penataan urutan isi mengacu pada keputusan untuk menata dengan urutan tertentu konsep yang akan diajarkan.

Pembuatan sintesis diantara konsep prosedur atau prinsip. Pembuatan rangkuman mengacu kepada keputusan tentang bagaimana cara melakukan tinjauan ulang konsepnserta kaitan yang sudah diajarkan. 

Strategi Penyampaian Pembelajaran. 
Strategi penyampaian isi pembelajaran merupakan komponen variabel metode untuk melaksanakan proses pembelajaran. Fungsi strategi penyampaian pembelajaran adalah: 1) Menyampaikan isi pembelajaran kepada pebelajar; 2) Menyediakan informasi atau bahan-bahan yang diperlukan pebelajar untuk menampilkan unjuk kerja. 

Strategi Pengelolaan Pembelajaran
Strategi pengelolaan pembelajaran merupakan komponen variabel metode, yang berurusan dengan bagaimana menata interaksi antara pebelajar dengan variabel metode pembelajaran lainnya. Strategi ini sangat berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang strategi pengorganisasian dan strategi penyampaian mana yang digunakan selama proses pembelajaran. 

Paling tidak, terdapat 3 (tiga) klasifikasi penting dari variabel strategi pengelolaan, yaitu (1) penjadwalan; (2) pembuatan catatan kemajuan belajar siswa; dan (3) motivasi.

Semoga bermanfaat,

Daftar Pustaka:

Busthan Abdy (2017). Perencanaan Pembelajaran (Halaman. 93-101). Kupang: Desna Life Ministry

abdy busthan: pendidikan dan pembelajaran online


Istilah "klasifikasi" dan istilah "pembagian" sepintas memang sama persis (boleh dibaca: mirip tapi tak sama). Sehingga keduanya sering dipersepsikan memiliki makna yang sama. Padahal antara konsep klasifikasi dengan konsep pembagian adalah dua hal yang berbeda.

Mari kita coba telusuri perbedaan keduanya berdasarkan prinsip-prinsip logika.

Klasifikasi memang berkaitan dengan pembagian, tetapi tidak semua pembagian bisa digolongkan sebagai klasifikasi. Pembagian yang dilakukan dalam klasifikasi hanyalah pembagian logis dan pembagian fisik. Mengapa? Sebab dalam pembagian fisik, masing-masing dari bagian fisik itu akan di bagi begitu saja, tanpa memperhatikan hubungan logis dengan keseluruhan. 


Misalnya, kata mobil yang bisa di bagi menjadi bagian-bagian seperti: ban, stir, rem, kopling, dsb. Tetapi ia tak dapat dikatakan bahwa ban adalah mobil, atau rem adalah mobil. Karena keseluruhan tidak dapat menjadi predikat bagi bagian masing-masing. 

Berbeda dengan pembagian logis dari mobil menjadi sedan, truk, bis, jip, dll. Pada titik ini, keseluruhan yakni mobil, dapat menjadi predikat bagi bagian-bagiannya. Misalnya, sedan adalah mobil, truk adalah mobil, bis adalah mobil, dsb.

Jadi, 'klasifikasi' lebih merupakan padanan dari pembagian logis, sedangkan 'pembagian' lebih tertuju pada pembagian fisik.

Dua Bentuk Perbedaan Klasifkasi & Pembagian

Dalam ilmu logika, terdapat dua bentuk perbedaan antara klasifikasi dan pembagian. Dapat dijelaskan sebagai berikut

Pertama, dalam hal pembagian, keseluruhan fisik dapat menjadi predikat dari bagian fisik tersebut. Misalnya, manusia dapat dibagi ke dalam bagian-bagian tubuh, seperti: tangan, kaki, kepala, pundak, dsb. Namun tangan, kaki, kepala, tidak bisa disebutkan sebagai manusia. Sementara dalam klasifikasi, keseluruhan dapat menjadi predikat pada bagian-bagiannya. Misalnya pengertian makhluk hidup. Dapat dikatakan: manusia adalah makhluk hidup; binatang adalah makhluk hidup.

Kedua, dalam pembagian, kita hanya memecah sesuatu yang besar (dalam jumlah maupun ukuran) menjadi bagian-bagian yang lebih kecil tanpa suatu kriteria. Misalnya, konsep rumah. Rumah bisa kita bagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil seperti kamar-kamar. Namun tidak dapat dikatakan bahwa kamar adalah rumah. Sedangkan dalam klasifikasi, kita membuat bagian-bagian yang lebih kecil dengan kriteria tertentu, yaitu keseluruhan dapatlah menjadi predikat bagi bagian-bagian. Misalnya: kuda adalah hewan, kelinci adalah hewan, dan monyet adalah hewan. Maka di sini, 'hewan' dapat menjadi predikat untuk kuda, kelinci, monyet dsb.

Semoga bermanfaat. 
Salam Logici,

Sumber Buku: 
Busthan Abdy (2019). Pendidikan Logika: Konsep Dasar Berlogika. (Hal 117-118). Kupang: Desna Life Ministry